Saukani saat memberi pakan ikan di kolam air deras di Desa Permu Bawah, Kepahiang. (foto.rahman jasin)

Tebar 500 Ribu Benih Saukani Panen 75 Ton Ikan Nila

KEPAHIANG– Tebar 500.000 benih ikan nila asal Lubuk Linggau, Saukani, petani Desa Taba Tebelet, Kepahiang berhasil panen 75 ton ikan nila segar.

‘’Saya mengelola kolam ikan di Desa Permu Bawah ini sejak tahun 2010. Dan selama 10 tahun ini juga saya tidak pernah membeli benih dari BBI Kepahiang. Benih ikan yang saya tebar berasal dari Lubuklinggau. Karena harganya lebih murah dan stok benihnya lebih banyak,’’ kata Saukani kepada potretbengkulu.com.

500 ribu benih ikan nila itu lanjut Saukani ditebar di 3 kolam. 100.000 ekor di kolam air deras berukuran 13 X 35 meter, 200.000 ekor di kolam tenang berukuran 60 X 60 meter. Dan 200.000 ekor lagi di kolam tenang berukuran 60 X 50 meter.

Dikatakan,  biaya pemeliharaan 500.000 ekor nila mulai dari penebaran hingga panen selama 6 bulan tergolong tinggi. Yakni sekitar Rp 1,2 miliar. Soalnya, pemeliharaan ikan itu membutuhkan 120 ton pakan.

Kolam air deras milik Saukani di Desa Permu Bawah, Kepahiang. (foto.rahman jasin)

‘’Untuk ikan usia 0-1 bulan kita berikan pakan 4-6 karung per hari. Tiap karung berisi 30 kg pakan. Usia  2 bulan naik menjadi 20 karung per hari, usia 3-4 bulan sebanyak 40 – 50 karung.  Menjelang panen usia 4-6 bulan pakannya mencapai 50-60 karung. Hasilnya, bobot ikan yang dipanen rata-rata 0,5 kg per ekor. Ikan yang dipanen langsung kita jual ke Lubuklinggau, Jambi dan Palembang dengan harga Rp 20.000 per kg. Jadi pendapatan dalam 1 kali panen total penjualan kita mencapai Rp 1,5 miliar. Setelah dipotong biaya modal Rp 1,2 miliar maka keuntungan bersih kita sebesar Rp 300 juta atau Rp 50 juta per bulan ,’’ ujar Saukani.

Mengapa kita masih membeli benih ikan di Lubuklinggau?

 ‘’Stoknya banyak da harganya lebih murah. Untuk benih ukuran 5 x 8 Rp 150 dan ukuran 8 X 12 Rp 250,’’

Mengapa kita tidak membuat pembibitan sendiri?

 ‘’Terlalu tinggi biaya dan ruginya besar. Sebab untuk mendapatkan 500.000 benih, kita membutuhkan 0,5 ton indukan. Setelah berproduksi 1 kali, ikan indukan jadi kurus. Kalau kita ingin menaikan bobotnya secara normal maka, kita harus mengeluarkan biaya 2 kali lipat,’’

Benih ikan yang dihasilkan dapat dijual juga? Sehingga bisa membantu petani lain.

 ‘’Lalu, mau dijual kemana benih yang banyak itu?. Jadi berdasarkan perhitungan bisnisnya, membeli benih ikan jauh lebih menguntungkan ketimbang kita membuat benih sendiri,’’  demikian Saukani. (rjs)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*