RSUD Kepahiang tampak megah.

Gagal Tender Pengadaan Incenerator RSUD Rp 3,8 M Bup Diminta Rombak Jajaran RSUD

KEPAHIANG – Gagalnya proses tender atau lelang pengadaan incenerator pemusnah limbah medis padat RSUD Kepahiang 2019 senilai Rp 3,8 miliar dikecam wakil Ketua (Waka) I DPRD Kepahiang, Andrian Defandra, SE, M.Si.

‘’Kita sangat menyayangkan gagalnya proses tender pengadaan incenerator RSUD senilai Rp 3,8 miliar yang berasal dari dana DAK 2019. Apalagi alasan kegagalan tender itu disebutkan gara-gara SDM kurang mampu. Soalnya, alat pemusnah limbah medis padat itu sangat dibutuhkan RSUD,’’ ungkap Andrian Defandra kepada potretbengkulu.com, Selasa, (10/12).

Idealnya lanjut Andrian Defandra, jauh hari pihak RSUD sudah harus mempersiapkan proses tender pengadaan incenerator itu. Karena,  kucuran dana DAK sudah diketahui 4 bulan sebelum APBD 2019 disahkan DPRD.

Waka I DPRD Kepahiang, Andrian Defandra, SE.(foto.rahman jasin)

‘’Lalu, mengapa persiapan tender pengadaan incenerator itu tidak dilakukan jauh-jauh hari?  Jika memang SDM di RSUD mengaku kurang mampu maka sudah selayaknya, bupati perlu memberikan punishment agar menjadi pelajaran kedepan. Lalu rombak pejabat di jajaran  RSUD itu. Sehingga kedepan jajaran bupati ini benar-benar serius menyukseskan program Kepahiang Maju, Mandiri dan Sejahtera,’’  tutur Andrian Defandra.

Seperti diketahui, tahun 2019 ada 2 Direktur RSUD Kepahiang. Yakni, dr.Febi dan dr.Hulman. Ketika itu, Tajri Fauzan, SKM, M.Kes sebagai Kabag Umum dan Kepegawaian.

Tajri Fauzan, SKM, M.Kes‘’Ketika saya menjabat Kabag Umum dan Kepegawaian dimana perencanaan tender incenerator itu saya yang susun. Saya sudah mempersiapkan proses tender pengadaan incenerator. Ketika itu pelaksanaan tender sudah dijadwalkan berjalan Bulan April 2019. Bahkan kita sudah ekspose di hadapan Tim TP4D Kejari. Tapi, Maret 2019, saya mutasi menjadi Kadis Kesehatan. Direktur RSUD dijabat dr.Hulman. Jadi, masalah gagal lelang incenerator itu adalah direktur yang baru. Mungkin dio idak ndak meneruskan perencanaan yang lamo. Padahal tinggal melaksanakannya saja,’’ jelas Tajri kepada potretbengkulu.com.

Sementara Direktur RSUD Kepahiang, dr.Hulman Augus Erikson, mengakui bahwa proses tender pengadaan incenerator RSUD gagal lelang. ‘’Gagal lelang incenerator itu karena SDM kita kurang,’’ tanpa merinci apakah SDM kurang mampu atau kurang jumlahnya sehingga pelaksanaan tender pengadaan incenerator itu gagal dan dana DAK senilai Rp 3,8 miliar harus disetor kembali ke pusat. (rjs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*