Windra bersama Tim PLN saat meninjau kondisi Desa Air Hitam dan Tanjung Alam yang sempat dilanda banjir.

Tanggapi Tuntutan Warga
Dewan dan PLN Tinjau Desa Air Hitam dan Tanjung Alam

KEPAHIANG– Ketua DPRD Kepahiang, Windra Purnawan, SP bersama tim PT PLN (Persero) UIK Sumbagsel UPDK Bengkulu, I Nyoman Buda meninjau Desa Tanjung Alam dan Desa Air Hitam Ujan Mas, Jum’at, (6/12).

Saat mengunjungi kedua desa yang sempat dilanda banjir itu, Windra didampingi beberapa anggota dewan. Yakni Haryanto,MM,Candra,Okta Sinopa, Taswinnata Diningrat dan Hamdan Sanusi,S.Sos.

Rombongan disambut Kades Air Hitam, Arpan Tauzi dan Kades Tanjung Alam, Ferry Marzoni.

“Pada hari ini, DPRD Kepahiang sudah menepati janjinya meninjau lokasi desa kami yang terdampak banjir sebagaimana tertuang dalam salah satu butir kesepakatan dalam berita acara RDPU.  Kita apresiasi hal ini dan kami mewakili masyarakat merasakan kehadiran wakil kami pada pasca bencana ini. Saat  kami memikirkan tentang kehidupan anak cucu kami kedepan, jika musim hujan kami selalu khawatir takut desa kami dilanda banjir seperti yang terjadi sebelumnya,” ujar  Arpan Tauzi.

Dewan dan PLN saat meninjau Desa Air Hitam

Dihadapan perangkat desa dan pemuka masyarakat kedua desa, Windra Purnawan yang didampingi anggota DPRD dan Manajer PLN UPDK Bengkulu I Nyoman Buda menanggapi keluhan Kades.

“Kita tidak memungkiri bahwa salah satu penyebab banjir ini adalah karena bendungan PLTA Musi, dengan menggunakan rakit tradisional tadi kita sudah menyaksikan sedimentasi pada sungai yang mengelilingi desa air hitam dan Tanjung alam ini sudah sangat membahayakan tidak dipungkiri dengan ada nya bendungan ini sedimentasi yang ada terjadi sampai ke hulu, yang menyebabkan genangan air, jadi kedepan kita berharap prioritas pertama adalah pengamanan warga jangan sampai ada korban jiwa, yang kedua kita masih menunggu hasil dari unib menegenai rekomendasi tindak lanjut studi banjir dan genangan air DAS Musi serta penanganan pasca  banjir mengenai proses pengerukan yang diharapakan bisa meminimalisir kejadian banjir, yang ketiga kita minta kepada pihak manajemen PLTA Musi untuk menempat orang-orang bisa dari warga desa maupun dari pihak PLTA sendiri untuk memantau titik-titik lokasi yang kemungkinan air nya cepat naik, dan memberikan laporan kepihak PLTA,” jelas Windra.

Windra foto bersama tim PLN dan masyarakat Desa Air Hitam dan Tanjung Alam

Sedang kan I Nyoman Buda  selaku Manager PLN unit pelaksana pengendalian pembangkitan (UPDK) Bengkulu menyampaikan

“Jadi kemaren sudah di bahas secara bersama-sama maka kita akan menyiap kan langkah-langkah Antara lain kita akan lakukan pengerukan pada tahun 2020, ada nya pembebasan lahan karena dari info yang kita dapat kan khusus desa air hitam sudah masuk zona merah,sedang kan untuk ganti untung kita punya mekanisme dan memerlukan waktu karena ini perusahaan negara dan aset negara maka perlu kita jaga dan tidak mungkin kita lakukan dengan gegabah dan tergesa karena hal ini jangan sampai menyalahi mekanisme dan aturan yang ada,PT PLN ini BUMN ada aturan perundangan dan mekanisme yang mesti di lalui menyikapi hal ini,” kata Nyoman Buda.

Sedangkan tokoh masyarakat Desa Tanjung Alam, Armin Jaya mengatakan”Kita dari pihak masyarakat masih dengan tuntutan untuk ganti untung khusus nya area pemukiman,kalau hal-hal lain nanti la kita bicarakan,dan kita juga memahami semua nya butuh proses dan memerlukan waktu tetapi kalau bisa pada tahun 2020 nanti bisa selesai,”ujar Armin jaya.(rls)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*