Arist Merdeka Sirait saat mengunjungi murid SDN 62 yang belajar di luar sekolah

Merdeka Sirait Prihatin Lihat Murid SDN 62 Belajar di Luar Sekolah

BENGKULU – Menindaklanjuti pengaduan dari pihak Pemkot tentang dugaan adanya perbuatan eksploitasi anak yakni murid SDN 62 Kelurahan Sawah Lebar, Kamis pagi (5/9) Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait turun langsung menemui para murid  SDN 62 dan wali murid.

Ia mengaku sangat prihatin melihat kondisi belajar murid di tempat terbuka yang dinilainya sangat tidak layak. Para murid itu terpaksa belajar di luar sekolah karena jadi korban dari konflik lahan antara pihak pemkot dengan pihak ahli waris yang sampai saat ini belum juga ada penyelesaianya karena belum ada kesepakatan ganti rugi.

“Saya sangat prihatin melihat kondisi Anak-anak yang belajar di tempat terbuka seperti ini, sudah pasti kepanasan dan kena debu. Kondisi ini sangat tidak baik untuk psikologi anak-anak,” kata Arist.

Menurut dia,  seharusnya orangtua tidak membiarkan anak-anaknya belajar di tempat terbuka dan belajar dengan seadanya.

“Orangtua harusya jangan mau membiarkan anaknya belajar di tempat terbuka semacam ini, walaupun ada yang mengajar sudah pasti tidak efektif. Saya sarankan anak-anak harus belajar di gedung dengan kurikulum yang jelas dari pemerintah dan guru sebagai pengajar utamanya,” tegas Arist.

Ia menjelaskan bahwa tujuan Komnas PA turun langsung ke Kota Brngkulu bertujuan mencari akar masalah yang hingga mengorbankan pendidikan Siswa SDN. 62. “Kami datang ke sini bukan permintaan Walikota Bengkulu, ketika kami mendengar adanya laporan ekploitasi atau kasus kekerasan terhadap anak seperti kasus Yuyun di Rejang Lebong kami langsung turun ke lapangan,” pungkasnya.

Dilanjutkannya bahwa pihaknya akan sama-sama kita cari pokok permasalahan akan berupaya sesegera mungkin menemukan titik terang sehingga anak-anak tidak jadi korban atas sengketa yang terjadi.(P-08)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*