Edwar Samsi memberikan bantuan korban bencana banjir di Desa Air Hitam, Ujan Mas, Kepahiang, pukul 10.00 WIB, Selasa, 30 April 2019. (foto. rahman jasin)

Edwar Samsi Bantu Korban Banjir Air Hitam

KEPAHIANG – Anggota DPRD Kepahiang dari PDIP, Edwar Samsi, SIP, MM menyantuni korban banjir di Desa Air Hitam, Ujan Mas, pukul 10.00 WIB, Selasa, (30/4).

Bantuan berupa air kemasan, makanan tambahan balita, makan tambahan ibu hamil, telur, sabun cuci, dan buku tulis itu diserahkan Edwar Samsi yang juga Ketua DPC PDIP Kepahiang kepada Ketua Ranting PDIP Desa Air Hitam, Elibery.

‘’Tolong bagikan kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban banjir. Bantuan ini merupakan wujud kepedulian kita semoga bisa membantu meringankan beban masyarakat yang menjadi korban banjir,’’ jelas Edwar Samsi yang juga Caleg DPRD Provinsi Bengkulu Dapil Kepahiang saat menyerahkan bantuan.

Edwar Samsi memberikan bantuan korban bencana banjir di Desa Air Hitam, Ujan Mas, Kepahiang, pukul 10.00 WIB, Selasa, 30 April 2019. (foto. rahman jasin).

Menurut Elibery dan beberapa ibu-ibu di lingkungan Dusun I Desa Air Hitam, jarak rumah warga dengan Sungai Air Lanang yang meluap diantaranya ada yang hanya terpaut sekitar 20 meter.  Ketinggian banjir yang merendam rumah-rumah warga sekitar 2 meter.

‘’Saat ini, seluruh warga tidak masak. Untuk makan siang dan sore dibantu dari dapur umum Dinas Sosial dan BPBD. Begitu juga air minum,’’ jelas Elibery yang dibenarkan beberapa ibu-ibu.

Diakui Elibery, banjir telah merusak sekitar 105 hektare lahan sawah petani Desa Air Hitam. Serta 90 ekor kambing mati terendam banjir. Karena saat diterjang banjir, kambing-kambing milik warga itu terkurung di dalam kandang.

Edwar Samsi bersama warga korban banjir Desa Air Hitam. (foto.rahman jasin)

‘’Barang-barang elektronik warga seperti TV dan DPD rusak direndam banjir,’’ kata Elibery.

Sedangkan Kadus I, M Sani Asri mengaku mengalami kerugian materi Rp 100 juta lebih. Sebab, isi kios pupuknya telah direndam banjir. Sehingga, stok pupuk dan pestisida, insektisida dalam kios rusak.

‘’Selain itu, 25 kaleng beras dan 30 karung padi hasil panen juga rusak direndam banjir. Termasuk barang-barang elektronik di rumah,’’ tutur Sani.

Sementara Sutrisno, (45), menceritakan  pekarangan rumahnya dan rumah rumah warga dipenuhi lumpur banjir. Sehingga, warga kesulitan membuang lumpur yang ditinggalkan banjir.

Sutrisno, (45) korban banjir Desa Air Hitam, Ujan Mas, Kepahiang. (foto.rahman jasin)

‘’Kami takut, jika hujan turun lagi, lumpur yang lebih tinggi dalam lantai rumah itu akan kembali masuk ke dalam rumah kami. Dan kami juga takut Sungai Air Lanang meluap lagi,’’  ujar Sutrisno.

Diakui Sutrisno, banjir yang merendam Desa Air Hitam dan Desa Tanjung Alam merupakan banjir terparah yang terjadi dalam 60 tahun terakhir.

Sedangkan Edwar Samsi menyampaikan keprihatinannnya atas musibah banjir yang melanda Desa Air Hitam dan Tanjung Alam.

‘’Banjir yang merendam Desa Air Hitam dan Tanjung Alam selama 1 hari 1 malam itu diperkirakan akibat keterlambatan PLTA Musi Ujan Mas membuka pintu bendung. Sebab, saat air Sungai Musi meluap beberapa bulan lalu, warga langsung menghugungi PLTA agar pintu bendung dibuka, maka, banjir yang berlangsung sekitar 1 jam. Sedangkan banjir kali ini cukup lama durasinya,’’ demikian Edwar Samsi seraya meminta PLTA Musi untuk lebih tanggap dalam memantau permukaan air Sungai Musi.

‘’Begitu volume air Sungai Musi naik, PLTA harus segera membuka pintu bendung. Sehingga, air tidak merendam desa-desa di sekitar bendung PLTA itu,’’ papar Edwar Samsi mengakhiri. (rjs)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*