Kebun Terong ungu lokal milik Rizon (35) di Desa Pulogeto Baru, Merigi, Kepahiang, Minggu, 7 Januari 2018. (foto.ist)

Terong Ungu Lokal Tetap Unggul

KEPAHIANG – Terong ungu lokal masih menjadi primadona Kepahiang. Soalnya, terung unggu lokal ini bukan hanya tahan terhadap serangan hama. Tapi terung ini memiliki masa produksi yang lebih panjang sehingga menguntungkan petani.

‘’Dibandingkan dengan bibit terong hibrida, terong lokal ini lebih unggul. Seperti, masa produktif lebih lama dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Sehingga tidak memerlukan pestisida yang banyak,’’ uangkap Rizon, (35), petani Desa Pulogeto Baru Kecamatan Merigi Kepahiang, Minggu, (7/1).

Dikatakan, usia produktif terong lokal bisa mencapai 12 bulan atau 1 tahun. Sehingga terong yang ditanam di kebun seluas 0,25 hektare milik Rizon itu mampu mendongkrak pendapatan keluarga.

‘’Terong akan terus produktif jika dirawat secara baik dan benar.  Sehingga terong akan terus berbuah sepanjang tahun. Jadi terong lokal lebih menguntungkan dibanding terong hibrida,’’ katanya.

Diakui Rizon, dari lahan seluas 0,25 hektare itu, Rizon bisa memetik terong segar antara 500 kg – 700 kg per minggu.

‘’Jadi, dalam 1 musim tanam kita bisa mendapat 7 – 8 ton terong segar. Saat ini harga jual terong ditingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 2000 per kg. Tapi, kalau lagi anjlok harganya bisa turun menjadi Rp 200 per kg,’’ tutur Rizon.

Namun fluktuasi harga terong yang bergerak naik turun dengan tajam itu tidak terlalu merugikan petani. Karena, terong akan berbuah dan dapat dipanen sepanjang tahun.

‘’Yang jelas menanam terong ungu lokal ini tidak membutuhkan modal besar. Karena kita dapat menekan modal pengadaan pupuk dan pestisida,” demikian Rizon. (P-07)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*