''Ayahku Pulang'' yang digelar Teater Senyawa Curup di Taman Budaya Bengkulu, pukul 20.00 WIB, Sabtu, 9 Desember 2017. (foto.rahman jasin)

‘’Ayahku Pulang’’ Teater Senyawa Curup Pukau Penonton

BENGKULU – Pergelaran cerita ‘’Ayahku Pulang’’ karya Usmar Ismail yang dipentaskan Teater Senyawa Curup berhasil memukau penonton di gedug teater tertutup Taman Budaya Bengkulu, pukul 20.00 WIB, Sabtu, (9/12).

Dihadapan para penonton yang mayoritas penggiat teater di Bengkulu, ‘’Ayahku Pulang’’ yang disutradarai  Adhyra Irianto dan dikemas dalam gaya realis itu mampu mengobati rasa kangen penonton terhadap pertunjukan teater.

‘’Ayahku Pulang’’ mengisahkan sosok ayah (Raden Saleh) yang diperankan Adhyra Irianto telah meninggalkan rumah selama 20 tahun lebih. Ketika pulang dalam kondisi sakit-sakitan, sang ayah langsung disambut suka cita oleh istrinya Tina yang diperankan Siti Amini Nurul Haditsa. Serta dua anaknya, Maimun (Ridwan Awang Saputra) dan Mintarsih (Hilwa Wardatul Jannah). Namun, kehadiran sang ayah ditolak anak sulungnya Gunarto (Ferdiansyah Pepeng).

”Ayahku Pulang” yang digelar Teater Senyawa Curup di Taman Budaya Bengkulu, pukul 20.00 WIB, Sabtu, 9 Desember 2017. (foto.rahman jasin).

Kebencian si sulung Gunarto terhadap sang ayah yang terpendam selama 20 tahun itupun kontan ‘’meledak’’ saat melihat sang ayah pulang. Gunarto merasa tidak memiliki ayah. Sehingga, Gunarto mengamuk dan bahkan mengusir sang ayah karena sang ayah dianggap telah melepaskan tanggungjawab terhadap keluarga. Serta telah menyengsarakan anak dan istri.

Konflik batin inilah yang berkecamuk dibenak sang ayah. Merasa  diperlakukan tidak baik, sang ayah bergegas meninggalkan keluarganya. Kemudian, pakaian sang ayah berhasil ditemukan Maimun. Saat itulah, Gunarto tersentak dan langsung menangisi kepergian ayahnya.

Usai pentas Adhyra Irianto langsung menggelar diskusi mengevaluasi pertunjukan yang digelarnya. Beberapa tokoh teater Bengkulu, seperti Mulyadi mencermati property panggung yang kurang termanfaatkan. Sehingga, dekor panggung terkesan teronggok tanpa mampu mendukung akting para pemain.  Selain itu, ilustrasi musikpun disorot karena dinilai mengganggu. Sebab, ilustrasi musik yang dimainkan sepanjang pertunjukan tidak mampu mengangkat suasana.

Emong Suwandi, senior dari Kepahiang tak kalah jeli mencermati pertunjukan ‘’Ayahku Pulang’’.  Adhyra Irianto selaku sutradara  ‘’dituduh’’ mengabaikan detail penyutradaraannya. Edi Ahmad juga mengomentari beberapa property yang dipajang di atas panggung tapi tidak memberikan perannya.

‘’Perubahan siang dan malam tidak tergambar. Misalnya, jendela yang dibiarkan terbuka serta lampu teplok yang tidak dinyalakan. Akan lebih hidup jika adegan malam diperkuat dengan penutupan jendela dan penyalaan lampu teplok. Tapi itu tidak dilakukan,’’ kata Edi Ahmad.

Sedangkan Adhyra Irianto, menjelaskan pertunjukan ‘’Ayahku Pulang’’  ini digelar atas dukungan aktivis teater di Kota Bengkulu. ‘’Saya ucapkan terimakasih atas bantuan dan dukungan kawan-kawan teater petak rumbio, teater jengkal, serta kawan-kawan teater lain,’’ demikian Adhyra Irianto. (rjs)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*