Tentara_Jepang (Wikimedia Commons)

Serbu Markas Jepang di Kepahiang Santoso Gugur Diberondong Senapan Mesin

KEPAHIANG – Tepat pukul 02.00 WIB, 13 November 1945, Letkol.Santoso yang menjabat Komandan Batalyon TKR Bengkulu bersama pasukannya menyerbu markas tentara Jepang di Kepahiang. Dalam penyerbuan heroik itu, Santoso akhirnya gugur sebagai kesuma bangsa. Keesokannya, Santoso dikebumikan di TPU Kelurahan Pasar Ujung, Kepahiang.

‘’Saat menyerbu Markas Jepang itu, Santoso diperkuat beberapa prajurit. Diantaranya, Komandan TKR Kompi Curup, Letnan Zainal Arifin Jamil. Serta, Nawawi Bahusin, Parijo, Hasan, Husen, Muhammad Idris, Syarif, Ansoriana, Zainuddin, Bukari Yakub, Buyung Efendi. Serta Muryadi Priatmo. Santoso dan Muryani menyandang senapan hamburg,’’ tutur Emong Suwandi dari Dinas Dikbud Kepahiang, Jum’at, (10/11).

Emong Suwandi (foto.ist)

Dikatakan Emong yang akrab disapa Arjuna Emong Wiwaha ini, sebelum melakukan penyerbuan Markas Jepang di Pasar Kepahiang, sekitar pukul 15.00 WIB, 12 November 1945 Santoso bersama Muryadi Priatmo tiba di Kota Curup. Ketika itu, Santoso mengenakan kain plekat hitam dan berjas putih. Serta mengenakan kopiah hitam dan membawa 2 senapa hamburg.

Lalu, Santoso memberikan perintah kepada Komandan TKR Kompi Curup, Zainal Arifin Jamil untuk menyiapkan pasukan. Tujuannya untuk ber-“jibakutai” menyerang markas Jepang di Padang Ulak Tanding.

‘’Arifin Jamil langsung mengumpulkan anggota TKR Curup. Diantaranya, Nawawi Bahusin, Parijo, Hasan, Husen, Muhammad Idris, Syarif, Ansoriana, Zainuddin, Bukari Yakub, Buyung Efendi dan beberapa orang lainnya. Tapi, serangan ke Padang Ulak Tanding dibatalkan. Santoso mengajak Rahman Rahim untuk menemaninya ke Kepahiang. Sedangkan Arifin Jamil diminta bersiaga di Curup. Tapi, Santoso akhirnya memerintahkan Arifin Jamil untuk membawa pasukan ke Kepahiang. Sebelumnya Arifin Jamil diminta untuk menghubungi Komandan TKR Kompi Kepahiang, Zamhari Abidin untuk bersiap.

Mendapat perintah ini, Zamhari Abidin bingung. Karena Zamhari tidak tahu diperintah bersiap untuk apa. Selanjutnya, Arifin Jamin dan pasukan diperintah untuk melakukan patroli keliling Kota Curup. Menjelang malam, Santoso menggerakan pasukan menuju Kota Kepahiang.

Dengan mengendarai bus yang disupiri Buyung Efendi, sekitar pukul 22.00 WIB, pasukan kecil Santoso tiba di Kepahiang dan berkumpul di Kelurahan Kampung Pensiunan.

‘’Ketika itu, Santoso belum menyampaikan maksud dan tujuannya membawa pasukan ke Kepahiang. Bahkan, pasukanya diberikan kesempatan untuk jalan-jalan di pasar malam Kepahiang dan diminta berkumpul kembali pukul 00.00 WIB. Saat itu, Santoso mengajak Muryadi mengunjungi keluarganya di Sempiang,’’ tutur Emong.

Tepat pukul 00.00, 13 November 1945, pasukan berkumpul. Saat itulah Santoso baru menyampaikan rencananya. Yakni menyerang markas tentara Jepang. Arifin Jamil diperintahkan untuk segera menghubungi Zamhari Abidin.

Menerima perintah yang begitu mendadak itu, Zamhari Abidin bingung bagaimana cara mengumpulkan dan mengkonsolidasi pasukan di tengah malam buta. Sementara markas TKR Kepahiang berada di Desa Daspetah. Kendati begitu, Zamhari akhirnya berhasil mengumpulkan pasukannnya yang tidak banyak jumlahnya. Termasuk beberapa warga dari Desa Tebat Monok dan Kelobak ikut bergabung. Pasukan Zamhari hanya bersenjatakan bambu runcing, pedang, keris dan tombak.

Pukul 02.00 WIB, terdengar lonceng pergantian jaga di Markas Jepang. Saat itulah dijadikan tanda penyerangan dimulai. Pasukan kecil gabungan TKR Kompi Curup, TKR Kompi Kepahiang dan laskar rakyat segera bergerak menyerbu.

Serangan dadakan yang tidak diduga Jepang itu berhasil melumpuhkan 3 tentara Jepang. Namun, serangan itu tidak berlangsung lama. Karena pasukan Santoso kekurangan amunisi dan persenjataan. Sedangkan pasukan Jepang baru mendapat tambahan kekuatan dari Nakani Tai Bengkulu. Sehingga tentara Jepang menjadi sangat kuat. Sebelumnya, tentara Jepang di markas itu hanya 1 pleton.

Ketika serangan pasukan Santoso melemah, tiba-tiba terdengar teriakan “Indonesia Merdeka..!!! Maju..!!!”. Seorang anggota laskar rakyat bernama Jenawa dari Desa Kelobak berpakaian putih-putih dan mengenakan ikat kepala putih melompat maju menyerang dengan membawa pedang. Setelah merobohkan beberapa orang tentara Jepang, 2 senapan mesin Jepang memberondong Jenawa. Tak pelak, Jenawa gugur di depan Markas Jepang.

‘’Penyeranganpun langsung berhenti. TKR Kepahiang dan TKR Curup mundur dan berkoordinasi kembali di Pensiunan. Saat itulah baru diketahui, bahwa Jenawa ternyata selamat. Lalu, siapa laki-laki yang berpakaian putih dan gugur di depan markas Jepang itu? Setelah ditelusuri ternyata laki-laki itu adalah adalah Letnan Kolonel Santoso,’’ jelas Emong.

Makam Letkol.Santoso di TPU Pasar Ujung Kepahiang. (foto.ist)

Sebelum mundur ke Tebat Monok, Zamhari Abidin meminta kepada TKR Curup untuk segera kembali ke Curup untuk menghindari kecurigaan tentara Jepang yang bisa melakukan pembalasan di Kota Curup. TKR Kepahiang yang akan bertanggung jawab untuk peristiwa penyerangan malam itu dan akan mengurus jenazah Letnan Kolonel Santoso. Sementara di pihak Jepang sendiri, setelah penyerangan malam itu segera melakukan steling pasukan di Lapangan Lupis—kini Lapangan Tugu Santoso—dan bersiaga di seluruh arah. Yakni ke arah Pagar Alam, Bengkulu dan Curup.

Pagi harinya, Letnan Yamada memanggil Zamhari Abidin untuk meminta keterangan atas serangan malam itu. Zamhari Abidin mengatakan jika TKR tidak tahu apa-apa dan tidak terlibat dalam serangan itu. Dengan memperhatikan kondisi TKR Kepahiang yang memang tidak begitu kuat, keterangan itu dipercaya oleh Letnan Yamada. Komandan pleton tentara Jepang itu menyimpulkan, bahwa serangan itu dilakukan TKR Bengkulu. Kepada Zamhari Abidin, Letnan Yamada meminta bantuan untuk tetap bersama-sama menjaga keamanan dan ketenangan Kota Kepahiang.

Lalu, jenazah Letnan Kolonel Santoso dipindahkan Jepang ke dalam markas. Dengan diantar Zamhari Abidin, pihak keluarga melakukan perundingan dengan pihak Jepang untuk meminta jenazah Letnan Kolonel Santoso. Baru esok paginya permintaan itu dipenuhi Jepang. Jenazah Santoso lalu disemayamkan di rumah duka di Sempiang, Pasar Ujung. Selanjutnya dikebumikan di TPU Kelurahan Pasar Ujung. (rjs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*