Penulis: Rahman Jasin
Putri Serindang Bulan (Bagian 17)

BEGITU Keluar pintu umeak mego, Karang Nio dan Serindang bergegas berlari meninggalkan umeak mego. Setelah berlari cukup jauh, Serindang menghentikan langkah. ‘’Kita istirahat dulu kak. Kakiku sakit,’’ ucap Serindang dengan nafas tersengal-sengal.

Cahaya keemasan menyeruak di ufuk timur. Buana membuka hari. Serindang meletakan kain sarung berisi pakaian di sebuah batu besar lalu duduk melepas penat. ‘’Kemana kakak akan membawa hamba. Lalu, mengapa kita harus meninggalkan umeak? Ada apa kak?’’ tanya Serindang.

Diberondong pertanyaan itu, Karang Nio tak langsung menjawab. Dipandanginya wajah Serindang lekat-lekat. ‘’Kenapa kak? Apa yang sebenarnya terjadi hingga kakak harus membawa adik lari? Kenapa kak?’’ kejar Serindang saat melihat Karang Nio tampak gundah. ‘’Kakak harus jelaskan sekarang juga. Jika tidak adik akan kembali ke umeak,’’ ancam Serindang bersungguh-sungguh.

Merasa terdesak, Karang Nio akhirnya bersedia menjelaskan alasan membawa Serindang minggal dari umeak. Dengan suara pelan dan berat Karang Nio menceritakan tugas yang diberikan kakak-kakaknya.

‘’Maafkan kakak. Sebenarnya, kakak ditugasi Kanda Geto untuk membunuhmu. Karena Kanda Geto dan yang lain merasa malu karena sudah 9 pangeran mengurungkan niat saat menyunting adik. Kejadian itu dianggap sebagai aib yang mencoreng nama baik Jurai Rajo Mawang. Tadi, malam, Kando Geto dan kanda yang lain berembug. Mereka sepakat menugasiku untuk membunuh adik. Tapi, bagaimana bisa aku membunuh adik  yang paling aku sayangi,’’ kata Karang Nio sambil menahan sesak di dada.

‘’Lalu apa rencana kanda?’’ sela Serindang. (bersambung)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*