Lara Ayu Lestari

Kejahatan Era Millenial

GENERASI Millenial adalah sebutan masa bagi mereka yang lahir pada tahun 1980-2000. Istilah tersebut diciptakan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam bukunya yang berjudul Generations dan The fourth Turning yang berasal dari kata millenials.

Pada tahun 2017, usia generasi millenial berkisar antara 17-35 tahun atau sekitar 255 juta jiwa, tingkat remaja sampai dewasa muda dan tentu pada usia tersebut telah memahami apa yang dimaksud dengan nilai-nilai sosial yang ada di lingkungan masyarakat.

Nilai sosial sendiri mempunyai arti nilai yang dianut oleh suatu masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan yang ada membuat generasi abad 21 ini mengalami dis-equilibrum atau hilangnya keseimbangan moral yang dilihat dari banyaknya pergeseran dan penyimpangan nilai yang terjadi pada saat ini. Penyimpangan yang terjadi tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga bisa terjadi melalui dunia maya yang biasa disebut kejahatan siber.

Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memaparkan bahwa pada 2017, lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta masyarakat Indonesia telah terhubung dengan internet dan sebanyak 49,52 persen diantara mereka berusia 19 hingga 34 tahun. Pengguna internet yang semakin meningkat ini juga membuat dis-equilibrum dan kejahatan semakin ‘tumbuh subur’, terutama di dunia maya.

Data menunjukkan, pada 2017 di Polda Bengkulu menangani satu kasus konten pornografi, delapan perkara penghinaan dan pencemaran nama baik, dua kasus pemerasan, 10 kasus penipuan, satu kasus konten pengancaman, sehingga jumlahnya mencapai 22 kasus kejahatan siber yang diatangani dan belum ada yang diselesaikan.

Pada abad 21 ini, penyimpangan yang terjadi tidak memandang jenis kelamin dan usia. Awal 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) memaparkan bahwa dari beragam laporan kejahatan seksual korbannya didominasi oleh laki-laki. Ketua KPAI Susanto mengungkapkan, ada kasus di Aceh dengan korban 26 anak, Tangerang 45 anak, Jambi 80 anak, Banyumas 7 anak, Karanganyar 17 anak, Tapanuli Selatan 42 anak, dan di Tasik 6 anak.

Oleh sebab itu, untuk meminimalisir penyimpangan dan kejahatan yang terjadi perlu adanya peningkatan kualitas pada aspek pendidikan, penanaman nilai seperti nilai moral, sosial, dan agama pada anak usia dini hingga remaja. Dengan adanya penanaman nilai-nilai tersebut diharapkan dapat mengatasi pergeseran nilai dan penyimpangan sosial atau dis-equilibrum yang dialami oleh generasi millenial. Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah peran orang tua. Orang tua harus selalu mengawasi dan mengajarkan nilai-nilai baik kepada anak mereka hingga mereka mau mengerti dan memahami budaya dan aturan yang ada dengan baik dan benar.

Disisi lain, pemerintah sebagai penegak hukum juga berperan penting karena pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk menindaklanjuti dan menyelesaikan sebuah pelanggaran atau kasus. Tindakan yang diambil oleh pihak berwenang tentunya kita harapkan dapat memberi efek jerah bagi para pelaku sehingga penyimpangan dan kejahatan yang terjadi dapat diminimalisirkan. (**)

 

Biodata Penulis

Nama       : Lara Ayu Lestari

Jurusan    : Ilmu Administrasi Negara

Fakultas   : Fakultas Ilmu Sosial

Instansi    : Universitas Negeri Yogyakarta

Alamat Email : Laraayulestari19@gmail.com

No Telp    : 085340926733

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*