Pelaksanaan belajar mengajar di SMK Putra Nusantara 4 yang masih memprehatinkan

Mengunjungi SMK Putra Nusantara 4 Benteng
Pembatas Ruang Kelas dari Triplek Lapuk dan Lantai Tanah

KONDISI SMK Putra Nusantara 4 di Desa Kelindang Atas Kecamatan Merigi Kelindang, Bengkulu Tengah sangat memprehatikan. Betapa tidak. Sejak berdiri 2 tahun lalu, sekolah ini belum memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Saat, para siswa belajar di bawah tarup berdinding triplek dan berlantai tanah.

Lokasi sekolah ini sekitar 40 KM dari Kota Bengkulu. Di halaman sekolah terlihat bendera merah putih berkibar di tiang bambu.

Ruang belajar mirip tarup berukuran  7 x 9 meter dibagi menjadi 3 ruang kelas.  Atap seng ditopang kayu bulat. Dinding pembatas ruang terbuat dari triplek yang mulai lapuk. Bagian sisi belakang dan depan ruang belajar tanpa dinding.

“SMK ini berdiri sejak tanggal 1 Februari 2016 lalu dengan jurusan Agribisnis Tanaman Pangan. Total siswanya 34 orang. Kelas X sebanyak 20 siswa, dan kelas XI 14 siswa. Sebelum memiliki gedung darurat ini, kami menggunakan rumah Pak Kades Kelindang Atas,” ungkap Kepala SMK Putra Nusantara 4, Mardiana, S.Pd saat menyambut potretbengkulu.com.

Berdirinya SMK, lanjut Mardiana, berkat inisiatif para pemuda dan masyarakat desa. Soalnya,  jarak tempuh sekolah yang ada dari Kecamatan Merigi Kelindang dan Merigi Sakti cukup jauh mencapai puluhan kilometer.

“Kemudian juga dilatarbelakangi, banyak anak-anak di sekitar sini putus sekolah setelah menempuh jenjang pendidikan SMP. Karena jika harus bersekolah di luar, orang tua siswa juga keterbatasan ekonomi,” kata pria alumni jurusan FKIP Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB).

Menurutnya, di SMK ini para siswa tidak dibebankan biaya apapun. Jumlah tenaga pengajar mencapai  12 guru  dan 2 tenaga tata usaha (TU).

“Kami mengabdi di sini juga secara sukarela, terkadang untuk membeli spidol saja pakai uang pribadi. Namun tanggungjawab kami, bagaimana para siswa bisa mendapatkan gedung yang layak. Maka dari itu kami harapkan uluran kaum dermawan, dan sejauh ini kami sudah membuka donasi dan baru terkumpul sekitar Rp 2,7 juta. Langkah ini kami lakukan karena usulan pada pemerintah belum ditanggapi sama sekali. Padahal kami sangat membutuhkan bantuan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan siswa kelas XI SMK tersebut, Endah Lestari dan Andika Saputra merasa bersyukur bisa sekolah di SMK. Sehingga dirinya  dan rekan-rekannya tidak putus sekolah.

“Kalau kami harus sekolah di luar, orang tua kami keterbatasan biaya dan disini kami bersekolah secara gratis. Kami ingin tetap sekolah walaupun kondisi sekolah seperti ini, karena kami walaupun tinggal di pelosok juga memiliki cita-cita,” ujar keduanya.

Terpisah, Kades Kelindang Atas, M. Jalaludin meyampaikan, berdirinya SMK tak lepas dari harapan masyarakat di sini, walaupun masyarakat tidak bisa memberikan apapun dengan keberadaan SMK. “Disini mayoritas petani, jadi ekonomi masyarakatnya masih sangat lemah. Atas dasar itulah disaat SMK berdiri kita minta jurusannya bidang pertanian, karena masyarakat disini nantinya bisa saja kembali bertani,” terang Jalaludin.

Sehingga, sambungnya, ilmu yang diperoleh bisa menjadi bekal terutama para siswa, bagaimana menjadi petani modern. Namun kondisi sekolah memang sangat memprihatinkan, dan pihaknya juga berharap ada perhatian dari pemerintah ataupun individu-individu agar sekolah menjadi layak. “Kalau soal lahan untuk berdiri sekolah tidak ada permasalah lagi, kan sudah ada,” tegasnya.

Lebih jauh dikatakannya, sejak berdirinya SMK itu sejak 2 tahun terakhir dan awal berdiri sempat dirumahnya, banyak dampak positif yang telah muncul.

“Diantaranya sebelum SMK ada, banyak anak-anak yang tamat SMP langsung menikah atau pernikahan dini. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, bahkan ada siswanya itu yang pernah putus sekolah tingkah menengah, kembali melanjutkan sekolah di SMK itu,” demikian Jalaludin. (P-07)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*