Penulis: Rahman Jasin
Putri Serindang Bulan (Bagian 12)

MENDENGAR Pendapat Karang Nio, putra sulung Rajo Mawang, Ki Geto  kontan pitam. Kedua bola matanya yang  besar dan bundar tampak melotot. Giginya menggemeretak menahan marah. ‘’Tidak. Ketika harga diri tercoreng, nyawa taruhannya..!!’’ teriak Geto sambil memandangi wajah Karang Nio dengan mata melotot. Ditatap dengan tajam, Karang Nio langsung menundukan kepala.

‘’Serindang harus dibuang. Karena dialah harga diri keluarga kita jadi direndahkan,’’ kata Geto dengan suara bergetar. Karang Nio berusaha menenangkan dan berkata: ‘’Sebentar kanda,’’ sela Karang Nio memberanikan diri untuk menyampaikan pendapat sembari mengangkat wajah. ‘’Tidak ada lagi yang perlu dibahas. Serindang harus disingkirkan,’’ suara Geto kian meninggi.

Melihat Geto pitam, adik-adiknya yang lain kecuali Karang Nio tak kuasa membantah. Karang Nio kembali menarik nafas panjang. ‘’Aku tetap tidak setuju jika Serindang harus disingkirkan dan dibuang. Walau bagaimanapun dia adalah adik kita. Darah daging kita,’’ Karang Nio mencoba membantah.  ‘’Walaupun dia adik kita tapi dia telah membuah malu keluarga dan jurai Rajo Mawang. Rasa malu hanya bisa dihapus dengan darah dan nyawa. Jika kau tetap mempertahankan Serindang kau harus berhadapan denga aku. Geto..!!! putra sulung Rajo Mawang penerus tahta Renah Skalawi. Jadi, kalian harus menuruti perintahku,’’  suara Geto mulai bergetar.

Amarah Geto tak lagi terbentung. Adik-adiknya, Geting, Tago, Jenain, Ain tak berani membantah. Termasuk Karang Nio. Sehingga suasana pertemuan saudara kandung Serindang Bulan inipun terasa mencekam. (bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*