tabut bengkulu

Penulis: Agustam Rachman, MAPS.
Perkembangan Upacara Tabut di Bengkulu

 Pendahuluan

Mengenai sejarah masuknya Budaya Tabut ke Bengkulu tidak hanya satu versi. Masing-masing versi memiliki argumentasi yang kuat. Versi pertama mengatakan bahwa masuk dan berkembangnya upacara Tabut di Bengkulu diperkirakan abad ke XVII, yang dibawa oleh orang-orang Muslim India. Orang-orang India ini sengaja didatangkan oleh Inggris sebagai serdadu dan pekerja untuk membangun benteng Marlborough di Kota Bengkulu. Namun secara khusus tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabut mulai dikenal di Bengkulu. Namun disebut-sebut bahwa tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut faham Syi’ah ini mulai ada sejak pembangunan benteng Marlborough (1718 – 1719) di Bengkulu.(Dahri, Harapandi,  Tabut (Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu) 2009 : 76).

Salah satu tokoh penting yang dianggap berperan dalam memperkenalkan upacara ini di Bengkulu adalah Syekh Burhanudin atau lebih dikenal dengan Imam Senggolo.

Sementara versi dari Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) meyakini bahwa sejarah asal-usul upacara Tabut di Bengkulu dibawa oleh Syekh Burhanudin atau Imam Senggolo seorang ulama Islam berkebangsaan Arab penyebar agama Islam yang pernah bermukim di Punjab Pakistan. Alasannya adalah sampai saat ini kata-kata yang berasal dari  bahasa Urdu Punjab masih dipakai oleh keturunan Imam Senggolo di Kota Bengkulu. Misalnya kata-kata : Dhada  (kakek), Abba (ayah), biwi (istri), mamu (paman), gam (sedih), penja (lima jari), soja (menyembah), jel (penjara), dawat (tinta) dan pemacik (korek api).(Syiafril, A, Sy, Tabut Karbala Bencoolen Dari Punjab Symbol Melawan Kebiadaban, 2012 : 107).

prosesi tabut bengkulu

Dikatakan oleh versi pertama bahwa di Irak sendiri, orang-orang Syi’ah pengikut tarekat Satariah selalu menyelenggarakan peringatan Assyura, yang juga diikuti oleh pengikut tarekat yang lain yang bermazhab Ahlusunah. Kemudian acara peringatan berkembang pula di Iran. Dari Iran tradisi ini terus berkembang ke India. Lalu dari India, ia berkembang ke Bengkulu dan Pariaman Sumatera Barat, yang dibawa orang-orang Syi’ah India, yang pernah menjadi tentara Inggris di tanah Bengkulu. (Iqbal, Muhammad Zafar,  Kafilah Budaya, Pengaruh Persia Terhadap kebudayaan Indonesia, Terj : Yusup Anas, 2006 :172).

Dengan terjadinya asimilasi antara orang-orang India yang datang ke Bengkulu ini dengan  masyarakat Melayu di Bengkulu ketika itu, maka secara perlahan upacara perayaan Tabut menjadi semakin diterima masyarakat umum.  Akhirnya secara turun-temurun silih berganti lahirlah tokoh-tokoh Tabut  pada generasi sesudahnya, yang membuat upacara Tabut semakin membudaya di Bengkulu.

Upacara Tabut sangat berakar di nusantara dan berfungsi memperingati kematian Hasan dan Husein sebagai tanda bakti kepada mereka dari penganut Syi’ah. (Bin Musa MF dkk, Tradisi dan Kebudayaan Ahlulbait di Nusantara, 2010 : 21).

Tradisi peringatan Tabut itu di Indonesia lebih sering disebut sebagai tradisi Muharram karena dilakukan pada bulan Muharram. Beberapa daerah di Indoneisa yang sampai saat ini masih melestarikan tradisi ini antara lain, Bengkulu, Pariaman, Solok, Padang Panjang Sumatera Barat, Pidie Aceh, Gresik dan Banyuwangi Jawa Timur. Tradisi Muharram oleh masyarakat Jawa disebut Syuroan sementara masyarakat Aceh menyebutnya bulan Hasan dan Husein. (Iqbal, Muhammad Zafar, Kafilah Budaya, Pengaruh Persia Terhadap Kebudayaan Indonesia, Terj : Yusuf Anas, 2006 : 159-164).

Waktu dan Tempat Penyelenggaraan

Sering dipahami bahwa penyelenggaraan upacara Tabut di Kota Bengkulu berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Hal itu dikarenakan orang hanya melihat prosesi yang bersifat massal atau melibatkan masyarakat umum. Namun sesungguhnya rangkaian acaranya sudah dimulai sebelum tanggal 1 Muharram dan berakhir pada tanggal 13 Muharram setiap tahunnya. (Syiafril, A, Sy, Tabut Karbala Bencoolen Dari Punjab Symbol Melawan Kebiadaban, 2012 : 38).

Kegiatan upacara perayaan Tabut sebelum tanggal 1 Muharram dan setelah tanggal 10 Muharram lebih bersifat internal keluarga Tabut (keturunan Imam Senggolo) saja, sehingga jarang diketahui publik.

Upacara Tabut sebagai Tradisi

Menjadi pertanyaan tentunya, mengapa tradisi Tabut yang berakar dari tradisi kaum Syi’ah ini dapat diterima secara luas di Bengkulu, mengingat mayoritas umat Islam yang ada di Indonesia khususnya di Bengkulu menganut aliran Sunni. Sementara kita juga tahu bahwa sejak lama kelompok Sunni tidak sefaham dengan kelompok Syi’ah, bahkan di beberapa tempat di Indonesia misalnya di Sampang Madura terjadi penyerangan fisik terhadap kelompok Syi’ah. Padahal kelompok agama Islam aliran Syi’ah di Sampang tidak menunjukkan sikap atraktif dalam mengekspresikan identitas maupun ajaran Syi’ahnya seperti kelompok Tabut di Kota Bengkulu.

Sebenarnya bibit-bibit konflik antara Islam Syi’ah dengan Islam Sunni di Indonesia ada sejak bulan Maret 1984 ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa yang isinya agar waspada terhadap ajaran Syi’ah. Yang terbaru adalah fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Jawa Timur pada tanggal 21 Januari 2012 yang mengeluarkan fatwa tertulis dengan nomor : Kep-01/SKF MUI/JTM/I/2012 Tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah.

Dalam sejarah suku Quraisy, tercatat dua klan besar yang mendapat kedudukan terhormat sebagai pemimpin kabilah. Klan pertama adalah Bani Hasyim dan klan kedua adalah Bani Umayah. Kedua klan ini memiliki hubungan keluarga sekaligus persaingan. Persaingan mereka berubah menjadi permusuhan ketika Muhammad SAW bin Abdullah dari klan Bani Hasyim, diutus sebagai Nabi Allah SWT. (Artikel Budi Darmawan, ‘Agar Tabut Tak Kehilangan Makna’ (Memahami Tabut dari Akarnya), 2012)

Lalu muncul pertanyaan lanjutan, mengapa perayaan Tabut yang semula merupakan ritual agama Islam aliran Syi’ah yang bertujuan memupuk rasa permusuhan kepada keluarga klan Bani Umaiyah yang telah membunuh Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib menjadi berkembang dalam fungsi membina kerukunan sosial dan mengintegrasikan masyarakat Kota Bengkulu, perayaan festival Tabut di Kota Bengkulu tidak tampil dengan bentuk yang menggambarkan layaknya sebuah ritual peringatan belasungkawa dan sikap permusuhan seperti peringatan Assyura yang dilaksanakan kaum Syi’ah di Irak atau Iran.

Namun sebaliknya peringatan gugurnya Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib di Kota Bengkulu dikemas dalam festival budaya yang didalamnya masing-masing suku yang ada di Kota Bengkulu seperti suku Jawa, Tionghoa, Minang, Lampung turut serta ambil bagian memeriahkan festival tersebut. Sehingga dalam perkembangannya fungsi ini masuk dalam tatanan sosial-budaya masyarakat Kota Bengkulu yang bahkan sekarang ini menjadi aset wisata andalan pemerintah Propinsi Bengkulu.

Dalam konteks yang lebih luas, mayoritas masyarakat Kota Bengkulu sudah tidak mempersoalkan asal-usul Tabut, apakah bersumber dari paham Syi’ah atau Sunni. Dimata kelompok Syi’ah di Kota Bengkulu yang di wakili Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) perayaan Tabut merupakan bukti bahwa ajaran Syi’ah pernah berkembang di Kota Bengkulu. Walaupun mereka mengakui saat ini sangat sedikit sisanya khususnya dalam hal ajaran fiqih Syi’ah. Sementara dalam pandangan Keluarga Tabut (keturunan Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo) lebih menempatkan tradisi Tabut dalam konteks yang lebih umum tanpa dibatasi oleh sekat-sekat aliran keagamaan Syi’ah atau Sunni. Perayaan Tabut lebih dilihat sebagai media untuk penyiaran agama Islam. Tradisi Tabut merupakan warisan leluhur yang wajib untuk dilaksanakan setiap tahun tanpa harus mendalami latar-belakang tradisi ini apakah berasal dari Syi’ah atau Sunni.

Penutup

 Banyak nilai-nilai universal yang dapat digali dari 13 fase kegiatan upacara Tabut, dimulai dari Do’a Mohon Keselamatan, Mengambil Tanah, Duduk Penja, Malam Menjara, Meradai, Arak Penja atau Mengarak Jari-jari, Arak Seroban, Hari Gam, Tabut Naik Pangkek, Arak Gedang, Soja, Arak Gedang Tabut Tebuang dan Mencuci Penja. Nilai-nilai universal itu antara lain memupuk solidaritas, gotong-royong, kesederhanaan dan mencintai sesama. Mungkin saja jika tokoh-tokoh Syi’ah yang membawa tradisi upacara Tabut di Bengkulu lebih menonjolkan sisi ideologis dari faham Syi’ah dalam upacara Tabut maka belum tentu masyarakat umum dapat menerimanya.

Dengan lebih menonjolkan upacara Tabut sebagai sebuah Tradisi, ajaran Syi’ah yang terdapat pada ritual upacara Tabut menjadi tidak begitu menonjol, terbukti tidak terdengar kata-kata dari peserta upacara Tabut yang menolak Imam selain Imam Ali. Sebaliknya yang ada hanya kata-kata yang memuliakan Imam Ali dan Ahlulbaitnya. Selain itu juga terlihat pengaruh tradisi lokal dalam upacara Tabut ini, misalnya penggunaan sesajian berupa bubur merah dan bubur putih, sirih, gula merah, rokok nipah, air serobat atau air santan kelapa, kopi pahit, air dadih yang terbuat dari susu sapi mentah, air putih, air selasih, air cendana dan kemenyan menunjukkan sisi kebudayaan lain diluar ideologi Syi’ah.

Tentu para pembawa tradisi Tabut ke Kota Bengkulu seperti Imam Senggolo atau Syekh Burhanuddin sudah mempertimbangkan untuk tidak menunjukkan sikap eksklusif dan menutup diri dari pengaruh unsur budaya lokal dalam perayaan Tabut ini karena jika hal itu terjadi maka tradisi Tabut akan mengalami benturan dengan budaya lokal yang sudah lebih dulu hidup di Kota Bengkulu.

Penulis adalah : Alumni program S2 Study Konflik dan Perdamaian Univ. Kristen Duta Wacana Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*