Lara Ayu Lestari

Emansipasi Wanita Abad 21

TANGGAL 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Saat itu kita mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperoleh kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, rasanya tidak adil jika kita membandingkan keadaan perempuan zamannya Kartini dengan zaman sekarang karena kondisinya pun sudah berubah. Masa sekarang, perempuan sudah hampir menyamai kedudukan laki-laki bahkan  kadang bisa melebihi. Hal ini menunjukan bahwa emansipasi wanita telah berhasil diterapkan.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, sudah sejauh manakah implementasi emansipasi wanita diera globalisasi ini ?

Dukungan untuk Emansipasi Wanita

Pada dasarnya, emansipasi merupakan usaha untuk memperoleh persamaan hak dan kesetaraan bagi setiap orang dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat. Sehingga makna emansipasi wanita berkaitan dengan usaha atau tindakan yang dilakukan agar perempuan diperlakukan sebagai manusia utuh. Misalnya saja, perempuan berhak merasakan pendidikan yang setinggi-tingginya dan seluas-luasnya seperti laki-laki.

Kehidupan abad 21 yang kian berkembang membuat perempuan Indonesia berhasil mensejajarkan kedudukannya diberbagai bidang kehidupan dengan laki-laki.

Bahkan tidak jarang kita melihat mereka menduduki posisi-posisi penting pada ranah politik, seperti yang pernah dilakukan Megawati Soekarno Putri. Beliau adalah perempuan pertama yang pernah menjabat sebagai presiden dinegara kita.

Selain itu, perempuan juga dapat berkiprah untuk bangsa pada dunia politik, ekonomi dan sosial. Hal ini dibuktikan dengan adanya Pasal 65 ayat 1 Undang-Undang  Nomor 12 Tahun 18 Februari 2003 yang berbunyi “Setiap partai politik peserta pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR, DPRD provinsi dan DPRD  kabupaten/kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30%”.

Ketentuan dari Undang-Undang diatas merupakan tindak lanjut dari konvensi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), yaitu persoalan yang menyangkut penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

Emansipasi wanita masa kini juga didukung dengan adanya peraturan yang diberlakukan khusus untuk melindungi mereka. Misalnya dalam bidang sosial kaum perempuan telah dilindungi oleh Undang-undnag pornografi dan pornoaksi yang cukup mencuri perhatian khalayak. Peraturan tersebut adalah sebuah bentuk perlindungan kehormatan wanita yang dijadikan bahan eksploitasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Ini membuat stigma kasar yang menyebutkan bahwa perempuan hanya lekat dengan kasur, sumur, dan dapur diharapkan luntur secara perlahan.

Keterpurukan Emansipasi Wanita

Era globalisasi yang semakin pesat juga berpengaruh pada perkembangan pola pikir kaum perempuan. Sehingga banyak yang salah mengartikan makna emansipasi itu demi mendapatkan kebebasan seluas-luasnya, terkhusus remaja putri. Remaja putri Indonesia sekarang bisa dikatakan krisis akan karakter. Pergaulan bebas, seks bebas, bahkan penggunaan obat-obat terlarang sudah menjadi rahasia umum. Pola hidup kebarat-baratan dianggap gaya modern karena memang kehidupan instan dan menyenangkan sangat mereka gemari.

Permasalahan diatas semakin didukung dengan riset yang menyatakan bahwa dari data yang dihimpun dari 100 remaja, terdapat 51 remaja perempuannya sudah tidak lagi perawan. Hasil Riset ini disampaikan oleh Sugiri kepada sejumlah media dalam Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas. Sugiri juga merincikan bahwa di Surabaya perempuan yang sudah tidak perawan lagi mencapai 54%,  di Medan 52%, serta Bandung mencapai 47% dan data ini dikumpulkan selama kurun waktu 2010 saja.

Kasus-kasus diatas membuat makna emansipasi wanita semakin bertolak belakang  dengan tafsiran yang dituturkan oleh R.A Kartini. Moral yang mengalami kemunduran membuat derajat perempuan semakin direndahkan. Emansipasi wanita harusnya dijadikan sebagai bekal diri untuk berpartisipasi membangun dan membuat bangga bangsa , mengharumkan nama kaum perempuan, dan tidak menjadi seseorang yang menjatuhkan martabatnya sebagai seorang perempuan.

Oleh karena itu, marilah kita lanjutkan kembali hasil perjuangan sang pelopor melalui perbaikan etika dan semangat menuntut ilmu yang tinggi agar kaum perempuan juga ikut menjadi subjek pembangunan bangsa dan negara. perempuan harus bisa memainkan peran sesuai dengan kondisi dan situasi yang dibutuhkan. Hanya saja yang perlu diingat, dalam mengimplementasikan emansipasi wanita, seorang perempuan tidak boleh lupa akan kodratnya sehingga emansipasi yang diharapkan R.A Kartini bisa terwujud dengan baik. (**)

Biodata Penulis

Nama                     : Lara Ayu Lestari

Alamat                   : Curup, Rejang Lebong, Bengkulu

Instansi                 : Universitas Negeri Yogyakarta

Jurusan                 : Ilmu Administrasi Negara

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*