Medi Juniansyah

Upaya Mahasiswa dalam Menangkal Radikalisme Kaum Intlektual

Menurut salah satu peneliti bidang hukum  LIPI, Anas Saldi menemukan adanya penyemaian paham radikal yang menguasai kampus-kampus besar di Indonesia. Melalui penelitiannya yang berjudul “Mahasiswa Islam dan Masa Depan Demokrasi Indonesia” ia menemukan benih-benih paham radikal di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Institute Teknolgi Sepuluh November (ITS), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Airlangga (UNAIR), Institute Pertanian Bogor (ITB), dan Universitas Diponegoro (UNDIP).

Penelitian tentang paham radikal juga dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian, yang mengambil sampel penelitian terhadap 500 guru dan siswa di wilayah Jabodetabek, bedanya penelitian ini dilakukan terhadap pelajar kalangan sekolah menengah. Hasil daripada penelitian itu, terdapat 76,2% guru dan 84% siswa menginginkan syariat Islam. Sebanyak 52,3% siswa mendukung kekerasan untuk solidaritas anak dan 14% siswa membenarkan aksi pengeboman, serta 25% guru dan 21% siswa mengatakan pancasila sudah tidak relevan lagi.

Fenomena ini sungguh sangat memprihatinkan, pendidikan sekolah dan Perguruan Tinggi (PT) yang sejatinya bisa mencetak generasi intelektual, pengembangan keilmuan serta pembangunan bangsa, kini justru terjangkit oleh pengembangan paham radikalisme yang pada akhirnya akan membahayakan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, sebagai pemuda harapan bangsa, diperlukan pengetahuan tentang akar masalahnya mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Sebenarnya banyak faktor penyebab yang bisa dianalisis, namun disini penulis tertarik pada empat faktor utama yang menyebabkan adanya gerakan yang dilakukan oleh kelompok tertentu untuk menebarkan paham radikalisme terhadap para kaum intelektual di kampus.

 Pertama, latar belakang paham keagamaan yang dangkal. Kalangan intelektual yang berasal dari sekolah umum atau kampus sekular (non-keagamaan) mudah terperangkap oleh paham-paham eksklusivisme dan fundamentalisme agama. Hal ini karena mereka tidak memiliki basis pemahaman keagamaan yang kuat, semisal tidak pernah belajar di pesantren atau sejenisnya. Mereka memahami ajaran keagamaan yang dasar atau sepotong-sepotong, sehingga pemahaman terhadap ajaran keagamaan tidak komprehensif.

Faktor ini sesuai dengan laporan-laporan penelitian ilmiah bahwah target perekrutan jaringan radikal banyak berasal dari kalangan mahasiswa Perguruan Tinggi umum. Bahkan juga terjadi di Perguruan Tinggi Islam seperti UIN/IAIN/STAIN terutama di fakultas-fakultas umum. Mereka menjadi target yang empuk dan efisien untuk menanamkan dan menginfiltrasi mereka dengan doktrin-doktrin paham radikalisme keagamaan, seperti Pancasila tidak sesuai syari’at, Indonesia adalah negara Thogut (zalim) yang mesti diperangi dan sebagainya.

 Kedua, ketidaktegasan kampus. Selama ini Perguruan Tinggi umum maupun Islam tidak begitu tegas untuk menangkal kelompok-kelompok radikal yang bertebaran di kampus. Pihak kampus sangat terbuka dengan organisasi-organisasi dakwah kampus yang eksklusif. Misalnya organisasi-organisasi intra kampus yang melakukan mentoring pemahaman Islam secara tertutup dengan penguasaan masjid-masjid secara sepihak. Sebaliknya, kampus sangat sensitif terhadap organisasi-organisasi ekstra yang cenderung moderat dan terbuka.  Sikap lunak dari kebijakan Perguruan Tinggi ini kemudian membuat mereka leluasa dan tanpa tekanan untuk menebarkan paham-paham radikal di kalangan mahasiswa, terutama mereka yang belajar di fakultas-fakultas umum.

 Ketiga, pemerintah kurang campur tangan dalam penanganan paham radikalisme intelektual. Pemerintah saat ini tidak memiliki Blue Print pengawasan persoalan kurikulum SD sampai Universitas ikhwal pencegahan paham radikalisme. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama, bahkan bisa melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) seharusnya bekerjasama dengan sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi di Indonesia untuk membuat program keseragaman pemahaman tentang kebangsaan. Hal ini bisa dilakukan ketika pengenalan orientasi akademik dengan sosialisasi ikhwal toleransi, moderasi, inklusivisme, multikultularisme, dan bahaya paham radikalisme. Sehingga sebelum siswa ataupun para mahasiswa menggeluti dinamika di sekolah dan di kampus, upaya preventif telah dilakukan.

 Keempat, faktor ketimpangan dalam sektor sosial, ekonomi dan politik. Harus diakui, ketidakadilan dalam ketiga sektor tersebut membuat konflik horizontal antar masyarakat semakin kompleks. Masyarakat semakin terjepit dan tertekan dalam persoalan kehidupannya. Dampaknya, orang atau kelompok yang tidak berdaya ini sangat mudah untuk di doktrin dengan paham-paham radikal dan tindakan anarkis sehingga mengesampingkan aturan-aturan hukum. Tak terkecuali adalah kalangan intelektual. Masalah ini adalah menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak ada ketimpangan dari tiga sektor tersebut.

Upaya Konkrit Mahasiswa

Pada Minggu-Kamis, 21-25 Januari 2018, Nusatenggara Center Mataram mengundang mahasiswa/mahasiswi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia untuk mengikuti program Lombok Youth Camp for Peace Leader 2018.

Program Lombok Youth Camp for Peace Leader merupakan kegiatan perkemahan perdamaian yang di inisiasi oleh Nusatenggara Center (NC) Mataram bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan United Nation Development Program (UNDP).

Program Lombok Youth Camp for Peace Leader yang dimaksudkan adalah untuk mengembangkan serta memperkuat wawasan ke-Indonesiaan, ke-Islaman, nilai-nilai bina damai sekaligus mengembangkan berbagai upaya nyata untuk mencegah kekerasan, radikalisme dan ekstrimisme di kalangan mahasiswa. Selain itu, program ini memfasilitasi kalangan aktivis kampus dalam membangun kerjasama lintas organisasi kemahasiswaan di PTKIN dalam mengkampanyekan nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin.

Penulis yang merupakan salah satu delegasi peserta yang mewakili STAIN Curup dan Kabupaten Rejang Lebong tentunya turut bangga bisa mewakili kampus dan membawa nama daerah dalam event nasional tersebut. Penulis dapat berjumpa dan saling tukar pengalaman bersama para mahasiswa/mahasiswi utusan dari masing-masing PTKIN dari sabang sampai merauke. Berbagai macam kegiatan yang terdapat dalam Program Lombok Youth Camp for Peace Leader yang telah penulis ikuti, seperti sesi panel majelis harmoni, mentoring, atraksi budaya, out bound, gala dinner, site visit ke areal wisata, penanaman seribu pohon, api unggun dan kegiatan lainnya yang tentunya memiliki kesan tersendiri bagi seluruh peserta dari masing-masing PTKIN seluruh Indonesia.

Salah satu program LYC yang sangat menarik untuk dicermati adalah sosialisasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI tentang penanggulangan penyebaran paham radikalisme di tengah-tengah masyarakat, bahkan terdeteksi sudah masuk ke wilayah kalangan intelektual kampus. Melihat kompleksitas persoalan paham radikalisme di tengah masyarakat dan kalangan intelektual kampus yang disampaikan oleh narasumber dari BNPT,  sejalan apa yang telah penulis kemukakan diatas, menuntut sikap konkrit yang harus dilakukan oleh para mahasiswa yang harus memiliki pemikiran terbuka dan moderat untuk proaktif bersama-sama menolak aksi radikalisme dan terorisme.

Atas dasar itulah, penulis yang merupakan salah satu alumni program Lombok Youth Camp for Peace Leader 2018 yang diberikan kesempatan untuk mengikuti program tersebut merasa memiliki taggung jawab untuk menjawab persoalan radikalisme. Melalui tulisan sederhana ini, penulis mengajak kepada kaula muda khususnya intelektual kampus agar bersama-sama menghindari paham radikalisme dan terorisme yang dilakukan oleh sebagian kelompok dalam rangka memperkuat rasa nasionalisme dan kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia. Oleh karena itu, ada beberapa terobosan dan konsep yang bisa penulis tawarkan untuk mendeteksi dan mereduksi paham radikalisme yang telah mewabah kaum intelektual kampus.

 Pertama, kalangan pendidik/dosen untuk lebih care melihat dinamika muridnya/mahasiswanya agar terhindar dari paham radikalisme. Penguatan nilai-nilai kebangsaan menjadi bahan matrikulasi sebelum mahasiswa memasuki jenjang perkuliahan diperlukan. Namun, hal itu tidak cukup, kalangan pendidik diharapkan dapat memberi pemahaman sepanjang proses kemahasiswaan, misalnya sebagai pengantar awal setiap mata kuliah yang disajikan. Secara teknis pengantar tersebut disampaikan 5 sampai 10 menit yang berisi penguatan wawasan kebangsaan dalam menepis paham radikalisme.

 Kedua, kalangan pendidik/do­sen memiliki kualifikasi yang tidak berafiliasi dengan organisasi radikal. Infiltrasi ajaran radikal tidak hanya muncul dari buku ajar, tetapi dari pengajar yang memiliki perspektif radikal. Dosen yang terpapar radikalisme dapat merugikan mahasiswanya melalui ancaman nilai tidak lulus dan lebih berbahaya adalah penyebaran radikalisme melalui pengajaran yang diberikan dosen tersebut.

 Ketiga, mahasiswa berperan penting dalam mencegah radikalisme. Kelompok-kelompok kajian dan gerak­an mahasiswa menyadari bahaya dari paham radikalisme dan terorisme dalam bingkai NKRI. Proaktif mengonter berbagai propaganda di media sosial dan internet. Mahasiswa tampil sebagai agen pembaru yang mengedepankan nasionalisme.

 Keempat, organisasi-organisasi kemahasiswaan lebih giat mengadakan kegiatan-kegiatan kreatif dan inspiratif di bidang akademis maupun seni budaya dan sosial kemasyarakat­an. Hal itu mencerminkan mahasiswa sebagai agen pembaru yang akan mendorong para mahasiswa untuk berprestasi dan berorganisasi yang dapat menjauhkan dari paham radikalisme.

 Kelima, kampus-kampus aktif menggelar stadium general (kuliah umum), seminar, atau pertemuan ilmiah dalam rangka menangkal paham radikalisme dan terorisme. Hal itu akan senantiasa mengingatkan para mahasiswa dan masyarakat sekaligus bentuk kontra radikalisme sehingga setiap orang akan wawas terhadap berbagai propaganda yang mengarah kepada radikalisme dan terorisme.

 Keenam, rektor berikut perangkat pembantu-pembantunya bertanggung jawab dan wajib proaktif dalam memonitor dinamika kehidupan kampus dan sekitarnya sebagai langkah preventif dalam mendeteksi tumbuh dan berkembangnya paham radikal serta kegiatan negatif lainnya.

Dengan upaya-upaya di atas, kesadaran bersama di kalangan kampus tidak saja menjaga generasi masa depan dari paham radikalisme, tetapi juga kegiatan-kegiatan itu memberikan kontribusi positif terhadap problem sosial kemasyarakatan.

Semoga Alumni Lombok Youth Camp for Peace Leader 2018 bisa menjawab tantangan radikalisme ini.

Penulis: Medi Juniansyah

(Alumni Program Lombok Youth Camp For Peace Leader 2018)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*